Rencana Pemerintah Lebelkan TNP-OPM Sebagai Teroris, Natalius Pigai: Tidak Bisa, Freedom Fighter

26 April 2021, 14:07 WIB
Ilustrasi warga Papua mengibarkan bendera bintang kejora. /Foto: Antara/Husyen Abdillah //

BERITA SUBANG - Aktivis Kemanusiaan Natalius Pigai menyoroti rencana pemerintah yang akan memberikan label Tentara Nasional Papua (TNP) atau Organisasi Papua Merdeka (OPM) sebagai Teroris dinilai tidak bisa. Pasalnya TNP atau OPM adalah freedom fighter atau pejuang kebebasan yang ditopang oleh Konvensi Jenewa.

"Keinginan Pemerintah untuk memberi label TNP-OPM sebagai organisasi Teroris, tidak bisa. TNP-OPM adalah freedom fighter ditopang Konvensi Jenewa dan Hukum Humaniter sebagai kombatan dan organisasi yang pernah hadir di PBB dan saat ini pun sering hadir di berbagai Forum PBB sebagai penentang kejahatan Koloni atau decolonisasi," kata Natalius Pigai dalam keterangannya, Jakarta, Senin, 26 April 2021.

Diakatakan Dia dari simbol-simbol negara, bangsa OPM tidak menganut ideologi maut. Mereka kata dia lahir lebih dulu dari NKRI, Bintang Kejora lahir tahun 1942, sedangkan Merah Putih lahir 1944.

Natalius Pigai menjelaskan TNP-OPM adalah organisasi yang memperjuangkan kemerdekaan dan pembebasan yang memiliki simbol-simbol negara bangsa atau nation state simbols, yakin; Bendera dengan Bintang Kejora-nya melambangkan Cahaya dan sinar kedamaian.

Baca Juga: Safari Tolak Kelanjutan Otsus Papua, Natalius Pigai Temui Fraksi PKB, Jokowi Diminta Bekukan UU Otsus

"Lambag burung mambruk sebagai tanda kedamaian. Kemudian Lagu kebangsaan hai tanahku Papua pemujaan tanah dan air nasionalisme Papua. Serta, wilayah kartografi Sorong sampai Merauke. Lalu, rakyat Papua bangsa Melanesia berkulit hitam. Karena itu TNP-OPM tidak menganut ideologi maut tetapi ideologi kebebasan atau freedom fighter," ujarnya.

Dijelaskan mantan Komisioner Komnas HAM periode 2012-2017, itu jika ditelisik dari sejahrahnya sudah lahir sebelum Indonesia masih merah, pucuk dan kecil bahkan Bintang Kejora dan persiapan kemerdekaan Papua sudah ada sebelum Negara Indonesia Lahir di Dunia yakni tahun 1942.

"Lahirnya bintang sampari oleh angganita manufaktur, proyek Papuanisasi oleh J Echoud, sedangkan Indonesia sendiri diakui oleh Belanda 1948. Tujuannya adalah kemerdekaan Papua," terang dia.

Baca Juga: Natalius Pigai Nilai 20 Tahun UU Otsus Papua Tak Efektif, Pemerintah Diminta Perlu Ada Perundingan

Lanjut dia, dengan landasan filosofi itu, tujuan TNP-OPM adalah ideologi pembebasan bukan menganut ideologi maut. Karena lahir lebih dulu dari Republik Indonesia, dimana Bendera Merah Putih lahir pada tahun 1944, sedangkan Bintang Kejora lahir pada tahun 1942.

"TNP-OPM diakui di dunia secara perjuangan dan pembebasan bangsa atau tujuan dekolonisasi, maka legitimasi di dunia sudah pasti tidak dapat. Saya melihat pelabelan ini hanya untuk menjustifikasi rasisme dan operasi militer yang lebih kuat yaitu DOM sebagai jalan cepat genosida terhadap bangsa kulit hitam Papua," demikian Natalius Pigai.

Sebelumnya, pada 23 Maret 2021 lalu Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi III DPR RI mengusung bahwa KKB dan organisasi separatis di Papua dapat dipidana dengan pasal-pasal tindak pidana terorisme.

Baca Juga: Pangdam Cendrawasih Mayjen Triyono Pelaku Penembak Kabinda IGP Dani Nugraha dari Kelompok Lekagak Telengen

Kepala BNPT, Komisaris Jenderal Pol Boy Rafli Amar beralasan perbuatan kelompok tersebut telah bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan menebar ketakutan di tengah masyarakat.

“Aksi yang nyata dari mereka, yaitu menyerang anggota TNI/Polri dan masyarakat sipil di sana (Papua)," ucap Komjen Boy Rafli Amar saat itu.***

Editor: Edward Panggabean

Terkini

Terpopuler